}
Selamat Datang di SYAMBAYU8 : Article For Everyone. Terimakasih Telah Mengunjungi Kami
SYAMBAYU8. Powered by Blogger.

------------------------------

My Archive

Konten

Total Tayang

Top News

Usaha Tani (17)

Konten

Powered By Blogger

Saturday, November 9, 2013

Budidaya Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) II

Lanjutan dari arikel : Budidaya Udang Vanname (Litopenaeus vannamei)


2.1.2  Pengeringan dan Pengangkatan Lumpur Dasar Tambak


Pengeringan tanah dasar akan dilakukan selama ± l bulan sampai tanah dasar tambak retak- retak . Selama pengeringan, dilakukan pengangkatan Lumpur dasar tambak secara selektif (tidak total), di mana pengangkatan lumpur hanya di lakukan terhadap lumpur yang mengandung amoniak (NH3) atau asam sulfida (H2S).Menurut Kokarkin (1999), tanah atau lumpur yang berada di tengah dasar tambak tidak selamanya harus di buang dengan pertimbangan bahwa lumpur dapat menjadi sumber nutrien dalam penumbuhan fitoplankton. Selain itu, pada saat mengalami pergantian kulit (moulting), pada umumnya udang berlindung dengan cara memasukan badannya ke dalam lumpur untuk menghindari pemangsaan dari udang lainnya.


Secara sederhana, upaya yang dilakukan untuk mendeteksi lumpur yang mengandung amoniak dan asam sulfida yaitu denagan mencium bau Lumpur tersebut. Apabila lumpur tersebut berbau busuk (bau telur busuk) maka dapat dipastikan mengandung amoniak dan asam sulfida dan harus dibuang. Adanya kandungan NH3 dan H2S yang dapat di deteksi dalam jumlah berapapun dianggap bersifat merusak produksi budidaya (Chamberlain dalam Chow ,1994).


2.1.3  Pemasangan Skala Air.


Skala air merupakan alat untuk mengukur ketinggian air dalam menunjang penentuan volume air tambak.  Pemasangan skala air dilakukan pada petak pemeliharaan da penampungan (tandon) dengan jumlah 2 buah per petak. Hal ini  dilakukan dengan pertimbangan bahwa tanah dasar tambak kurang datar (perbedaan elevasi) sehingga di perlukan lebih dari 1 skala air untuk mempermudah dalam perhitungan tinggi rata-rata air. Fungsi tandon adalah :


  • Sebagai  tempat  mempersiapkan  air  berkualitas  baik  sebelum dimasukkan ke tambak seperti mengendapkan partikel organik, penumbuhan jenis makanan  alami  yang diinginkan dan  menerapkan  perlakuan  fisik (penyaringan,  penyekatan,  pengangkatan  endapan);  kimia  (pengapuran, aerasi):  serta  biologi  (ikan  bandeng,  kerang  hijau,  rumput laut  dan sebagainya).

Sebagai tempat mengendapkan limbah dan tamhak (intensif) sebelum dibuang ke laut. Model dan perlakiian tandon pasok perlu disesuaikan dengan kondisi sumber air, dimana pada kualitas air  lebih rendah maka diperlukan petak-petak landon yang lebih banyak dengan berbagai perlakuan.


2.1.4  Pemasangan Saringan Air


Pemasangan  saringan  air  dilakukan  terhadap  pintu  pemasukan  dan pengeluaran air. Bentuk saringan adalah saringan kamong (kondom) karena pintu pemasukan dan pengeluaran air berupa pipa paralon (PVC). Adapun bahan saringan terdiri dari waring hijau pada pintu pemasukan ,sedangkan pada pintu pengeluaran berupa waring hijau atau hitam (disesuaikan dengan umur dan ukuran udang).


2.1.5.  Pemasangan Jembatan Anco


Pemasangan jembatan anco dilakukan dengan menggunakan rangkaian batang bambu berukuran sekitar 2 meter dipasang menjorok ke dalam tambak dengan penyangga di dasara tambak .Adapun jumlah jembatan anco yang digunakan pada petak pemeliharaan adalah 4 buah/petak. Hal ini dilakukan  untuk mempermudah dalam mengetahui laju pertumbuhan, tingkat kesehatan, nafsu makan, dan populasi udang selama pemeliharaan melalui pengontrolan anco.


2.1.6.  Pemasangan Kincir


Untuk mensuplai kebutuhan udang akan oksigen terlarut (DO) dalam tambak digunakan aerator berupa incir/paddle whell. Perbandmgan antara jumlah kincir yang akan digunakan dengan iumlah benur yang akan ditebar adailah 1 unit :50.000 atau 3 unit petak. Adupun posisi pemasangannya  adalah sistem sejajar, dimana arah perputaran kedua unit kincir tersebut menuju kearah pintu pengeluaran air.


2.2.  Persiapan Air


Pemasukan air pertama dilakukan pada petak penampungan/tandon melalui saluran   utama.   Kemudian  air  tersebut  didistribusikan/disalurkan   ke  petak pemeliharaan melalui pipa paralon menggunakan pompa submersible 6" sampai ketinggian air mencapai ± 60 cm.


Petakan tambak yang akan ditebari benur harus bebas dan hama agar tingkat kelangsungan hidup (SR) udang vanname dapat dicapai seoptimal mungkin sesuai dengan  target  (70 %),  Untuk  itu,  air  tambak  perlu  disucihamakan dengan menggunakan pestisida organic yaitu saponim (Tea Seed) sebanyak 30 ppm kemudian air diaduk dengan pengoperasian kincir.


Saponim yang telah ditebar akan menimbulkan busa pada permukaan air tambak selama 3 – 4 hari busa tersebut sebaiknya diangkat menggunakan caduk untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah air tambak netral, benur udang vanname siap ditebar.


2.3  Penebaran benur


Penebaran benur dilaksanakan dengan padat tebar  10 ekor /m2 atau 100.000 ekor /ha. Penebaran akan dilaksanakan pada pagi hari pukul 06.00 - 09.00 WIB dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut :


  • Benur akan mendapatkan lingkungan media penebaran yang kadar oksigen (DO) yang semakin membaik, penebaran pada sore hari akan sebaliknya menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tambak dan

  • Pengamatan terhadap benur yang baru ditebar akan lebih mudah dilaksanakan.

Untuk mencegah tingginya tingkat kematian (mortalitas) benur pada saat dan setelah penebaran, dilakukan akiimatisasi terlebih dahulu terhadaop benur yang akan ditebar.baik aklimatisasi salinitas, suhu, maupun pH.

Bersambung ke artikel : Budidaya Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) III

0 komentar

Iklan

My Profil

My Photo
Bungo, Jambi, Indonesia